Moms, masih ingat piyama motif dinosaurus yang dipilih sendiri sama si kecil? Yang tiap malam maunya pake itu terus..

Baru lima kali dicuci. Permukaannya sudah berbulu. Kerahnya melar. Warnanya pudar.

Moms pasti tahu rasanya. Bukan soal uangnya sih, tapi si kecil kecewa dan Moms harus jelasin kenapa piyama kesayangannya nggak bisa dipakai lagi.

Supaya nggak terulang, yuk kita kenali bahannya bareng!

Kenapa Bahan Lebih Menentukan daripada Motif

Kebanyakan Moms memilih piyama anak karena motifnya. Si kecil menunjuk gambar yang dia suka, urusan selesai. Itu wajar kok, dan kami nggak akan bilang Moms salah.

Cuma, yang menentukan apakah si kecil tidur nyenyak sampai pagi bukan gambarnya, tapi bahannya. Piyama dengan motif paling menggemaskan pun akan membuat anak gelisah kalau kainnya menahan panas atau lembap menempel di kulit.

Kabar baiknya, Moms bisa dapat dua-duanya. Motif yang disukai anak, sekaligus bahan yang benar-benar nyaman. Tinggal tahu apa yang perlu dicek.

Katun: Pilihan Standar yang Tetap Aman

Kelebihan Katun untuk Bayi

Katun jadi standar bukan tanpa alasan, dan kami nggak akan menjelek-jelekkannya.

Seratnya alami, gampang dicari, harganya terjangkau, dan tahan dicuci berulang. Ini penting sekali untuk baju anak yang masuk mesin cuci hampir tiap hari. Katun juga menyerap kelembapan dengan baik dan aman untuk sebagian besar anak.

Untuk banyak keluarga, katun berkualitas baik sudah lebih dari cukup, kok.

Keterbatasan yang Perlu Diketahui

Kekurangan utamanya ada di kecepatan kering.

Katun menyerap banyak kelembapan tapi melepasnya relatif lambat. Di kamar yang lembap, kainnya bisa terasa dingin dan menempel di kulit menjelang subuh.

Katun kualitas rendah juga cenderung cepat berbulu dan melar di bagian kerah setelah beberapa kali dicuci. Ini yang terjadi pada piyama dinosaurus tadi.

Cara Membedakan Kualitas Katun

Perbedaan Kerapatan Serat

Katun berkualitas melewati proses penyisiran tambahan yang membuang serat-serat pendek sebelum dipintal. Hasilnya benang yang lebih rata dan kain yang lebih rapat.

Katun yang diproses seadanya melewatkan tahap ini. Serat pendek yang tertinggal itulah yang belakangan muncul ke permukaan sebagai bulu-bulu halus.

Dampaknya pada Kelembutan

Bedanya terasa langsung waktu dipegang, dan makin jelas seiring waktu.

Katun yang dipintal rapat mempertahankan kehalusannya lebih lama. Katun murah cenderung menjadi kasar dan berbulu setelah beberapa kali dicuci.

Untuk piyama yang dicuci hampir tiap hari, selisih harga antara keduanya biasanya sepadan. Ini salah satu tempat di mana membayar sedikit lebih mahal benar-benar terasa hasilnya.

Modal dan TENCEL Modal

Karakter Serat Modal

Modal dibuat dari selulosa kayu yang dilarutkan, lalu dibentuk ulang menjadi serat baru. Karakternya lebih halus dari katun, permukaan seratnya lebih rata, sehingga gesekannya di kulit lebih sedikit.

Modal juga tetap lembut setelah dicuci berkali-kali, nggak seperti katun yang bisa mengeras kalau salah dirawat.

TENCEL Modal dan Keunggulannya

TENCEL™ Modal adalah merek dagang untuk serat modal yang diproduksi Lenzing. Bahan bakunya serat alami dari kayu bersertifikat. Bedanya dengan modal generik ada di konsistensi kualitas dan ketertelusuran bahan bakunya.

Ada yang perlu kami sampaikan terus terang. Bahan bakunya memang alami, tapi seratnya sendiri dibentuk lewat proses kimia dalam sistem tertutup, dengan pelarut yang dipakai berulang. Makanya kami menulisnya berbahan baku serat alami, bukan sekadar bahan alami. Dua hal yang beda, dan menurut kami Moms berhak tahu bedanya.

Untuk iklim Indonesia, keunggulan yang paling terasa ada di pengelolaan kelembapan. Serat ini menyerap keringat lalu melepasnya lebih cepat dari katun, jadi kainnya nggak menempel dingin di kulit menjelang subuh.

Awan&Co memakai bahan ini untuk sebagian besar koleksi, dan kami memang percaya pada pilihan itu. Cuma bahan ini punya kekurangan juga di soal perawatan, dan itu kami bahas di bagian bawah artikel ini. Penjelasan teknis lengkapnya kami tulis di halaman baju bayi TENCEL.

Bahan yang Sebaiknya Dihindari

Bahan Sintetis di Iklim Panas

Polyester dan campuran sintetis lain memang murah dan awet. Tapi ada satu kelemahan mendasar untuk iklim tropis: serat sintetis nggak menyerap kelembapan.

Keringat nggak diserap kain, tapi tertahan di antara kulit dan baju. Akibatnya si kecil merasa gerah walaupun kainnya tipis.

Ini yang menjelaskan kenapa piyama tipis berbahan sintetis sering terasa lebih panas dari katun yang lebih tebal.

Campuran yang Perlu Diperiksa

Banyak piyama di pasaran memakai campuran, misalnya 65% polyester dan 35% katun. Komposisi seperti ini mewarisi sebagian besar kelemahan sintetis.

Patokan sederhananya, pastikan serat yang bahan bakunya alami yang menjadi mayoritas dalam komposisi, entah itu katun, modal, atau TENCEL. Baca labelnya, jangan cuma percaya foto produk atau nama barangnya.

Tabel Perbandingan Bahan Piyama Anak

Bahan Kelembutan Sirkulasi Udara Daya Tahan Perawatan Kisaran Harga
Katun biasa Sedang Baik Sedang, gampang berbulu Gampang Rendah
Katun berkualitas Baik Baik Baik Gampang Sedang
Modal Sangat baik Baik Baik Maks. 40°C, tanpa pengering Sedang–tinggi
TENCEL™ Modal Sangat baik Sangat baik Baik Maks. 40°C, tanpa pengering Tinggi
Polyester / campuran Bervariasi Kurang Sangat baik Gampang Rendah

Perhatikan kolom perawatannya, yaa. Modal dan TENCEL memang lebih nyaman, tapi ada aturan mainnya. Boleh masuk mesin cuci dengan mode lembut sampai 40°C, cuma jangan dikeringkan pakai mesin pengering. Kalau perlu disetrika, pakai suhu rendah, atau lebih baik lagi pakai steamer.

Cara Memeriksa Kualitas Bahan Sebelum Membeli

Bagian ini jarang dibahas orang. Cara menilai kain sendiri, tanpa bergantung pada klaim di deskripsi produk.

Kami memakai cara ini tiap kali menerima gulungan kain baru dari pemasok, dan Moms bisa melakukannya di toko.

Uji Sentuh dan Regangan

Gosok kain di antara ibu jari dan telunjuk. Kain berkualitas terasa rata. Kain dengan serat pendek berlebih akan terasa sedikit berpasir.

Lalu regangkan pelan bagian kerah atau pinggangnya, dan lepaskan. Kain yang baik kembali ke bentuk semula. Kalau setelah sekali diregangkan sudah melar dan nggak kembali, kain itu akan melar permanen setelah beberapa kali dicuci.

Memeriksa Kerapatan dengan Cahaya

Angkat kain ke arah cahaya.

Kain yang rapat menyaring cahaya secara merata. Kalau Moms melihat titik-titik terang yang tersebar nggak rata, artinya rajutannya kurang konsisten. Biasanya itu pertanda kain akan cepat berlubang di titik-titik itu.

Cara ini juga membantu membedakan kain tipis yang berkualitas dari kain tipis yang sekadar kurang bahan.

Membaca Label Komposisi

Label komposisi lebih bisa dipercaya daripada nama produk. Piyama yang ditulis "katun" belum tentu 100% katun.

Cari persentase yang tertulis, dan perhatikan urutannya. Serat dengan persentase terbesar selalu disebut lebih dulu. Untuk TENCEL, cek apakah labelnya menyebut Lenzing secara spesifik, karena kain lyocell atau modal generik karakternya berbeda dari TENCEL™ bersertifikat.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Bahan Apa yang Paling Adem?

Untuk iklim lembap seperti Indonesia, serat yang menyerap sekaligus melepas kelembapan dengan cepat terasa paling adem. TENCEL™ Modal dan modal berkualitas unggul di sini. Katun tetap pilihan yang baik, cuma sedikit lebih lambat kering.

Apakah Katun Selalu Aman?

Biasanya iya, dan katun tetap standar yang layak dipercaya. Yang penting kualitasnya. Katun yang dipintal rapat jauh lebih tahan berbulu dan melar dibanding katun murah. Cek juga proses pewarnaan dan sertifikasi keamanannya.

Bagaimana Mengenali Bahan Berkualitas?

Pakai tiga cara tadi: gosok untuk merasakan kerataannya, regangkan kerahnya untuk melihat pemulihan bentuk, dan angkat ke cahaya untuk memeriksa kerapatan. Lalu baca label komposisinya, bukan cuma nama produknya.


Kalau Moms mau lihat koleksi Awan&Co, ada di baju anak.

Dan supaya awetnya maksimal, kami tulis juga cara merawat baju TENCEL. Sebagus apa pun bahannya, cara mencuci tetap yang paling menentukan!

Latest Stories

This section doesn’t currently include any content. Add content to this section using the sidebar.
WhatsApp